Mahasiswa PIAUD Ini Juara Menulis Nasional, Inilah Rahasianya


Namanya Riski Maulida Sari atau biasa dipanggil Riski. Mahasiswi Prodi PIAUD semester tiga ini baru saja meraih Juara 2 Lomba Menulis Kisah/Cerita Islami tingkat nasional di Yogyakarta. Lomba ini adalah salah satu rangkaian dari Festival Berkisah Nasional II 2018 yang diselenggarakan oleh Prodi PIAUD Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Festival itu sendiri sejatinya berlangsung dari tanggal 15 Oktober – 15 November 2018. Puncaknya adalah pada tanggal 23-24 November 2018, yakni kegiatan Workshop Penulisan Kisah-Kisah Islami untuk Anak Usia Dini. Saat itu juga diumumkan para nominator 1, 2 dan 3, sekaligus pemberian penghargaan.

Pada kompetisi tersebut, gadis kelahiran Seruyan 19 tahun silam ini bersaing dengan ratusan peserta dari berbagai Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia. Nominator 1 diraih mahasiswa PIAUD dari IAIN Purwokerto, dan nominator 3 oleh PIAUD UIN Sunan Kalijaga.

“Luar biasa. Semoga prestasi ini bisa menjadi inspriasi untuk kemajuan PIAUD,” ungkap Ali Iskandar, M.Pd, Kaprodi PIAUD. “Tidak dipungkiri. Ini semua juga berkat dukungan dari Dekan dan seluruh civitas akademik FTIK IAIN Palangka Raya.”

PIAUD sendiri adalah salah satu program studi yang baru saja dibuka di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Palangka Raya. Prestasi ini menjadi sebuah kejutan untuk Prodi dan fakultas.

“Saya sangat bersyukur. Ini langkah awal saya untuk menjadi guru PAUD yang profersional di masa depan,” ungkap Rizki saat diwawancarai. Putri pasangan (Alm.) Asmawi dan Nuriah ini memang bercita-cita ingin jadi guru PAUD. “Awalnya saya ingin menjadi seorang desainer. Dari kecil suka bermain mesin jahit ibu di rumah. Namun sekarang kuliah PIAUD, maka inilah jalan hidup saya ke depan.”

Prestasi yang diraihnya ini ternyata bermula dari hobi. Sejak di sekolah, alumni SMAN 1 Danau Sembuluh ini suka menulis diari. Di buku diarinya, Riski biasa mencatat apa saja ide dan perasaan yang dialaminya sehari-hari.

Ketika ditanya rahasia bisa masuk nominator, Riski menjawab “naskah saya berjudul “Malang.” tulisan itu bercerita tentang konflik antara binatang dan manusia memperebutkan sumber daya alam di sebuah daratan kecil di tengah danau. Di situ saya sengaja mengangkat kearifan lokal desa saya Danau Sembuluh. Nama-nama binatang, buah-buahan, tempat dan istilah-istilah tertentu sengaja saya pakai apa adanya. Kearifan lokal itulah yang mungkin menjadi nilai plus dari tulisan saya.”

“Tapi itu bukan satu-satunya,” lanjut Riski. “Terus terang ini pengalaman pertama saya ikut kompetisi menulis. Tapi saya berusaha mencari dukungan moral dan doa dari orang tua dan orang-orang sekitar. Saya pun bersungguh-sungguh mengerjakannya. Saat menulis itu, saya tidak berpikir untuk menang. Saya hanya berfokus pada kualitas tulisan yang sedang digarap. Saya pun mengerjakannya dengan totalitas dan tanpa beban atau ambisi.”

Riski adalah seorang anak yatim. Ayahnya meninggal sejak dia masih kecil. Ia tumbuh besar bersama ibunya dan kakak-kakaknya. Namun kondisi itu tidak membuatnya berkecil hati. Riski tumbuh menjadi remaja yang ceria dan bersemangat. “ Moto hidup saya adalah selalu ingin berubah menjadi yang lebih baik. Keterbatasan bukanlah hambatan untuk sukses.“

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *