Limbah Cangkang Kepiting Menjadi Pakan Ternak: Kontribusi IAIN Palangka Raya dalam KKN 3 T NTT

Oleh. Achmad Akbar

Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam

Teriring puji dan syukur di hati saya ketika berkesempatan membawa nama IAIN Palangka Raya dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara 3T (Terluar, Terdepan dan Tertinggal) yang di selenggarakan oleh Kementrian Agama Republik Indonesia dan dimotori oleh Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya dapat  terpilihmembawa almamater sendiri dalam kegiatan tersebut.

Kegiatan dikemas dalam dua masa kegiatan yaitu masa pembekalan dan pengabdian. Masa pembekalan dilakukan full day selama tiga hari dari pagi sampai malamdi Asrama Haji,Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kemudian masa pengabdian selama 38 hari di tujuh desa diKecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang. Masa pembekalan terasa sangat asing karena menjadi masa adaptasi bagi peserta yang dikumpulkan menjadi satu di satu tempat tanpa mengenal satu sama lain. Menjadi pemain tunggal dari kampus tanpa pasangan membuat saya kurang percaya diri diawal, namun itu semua bukan halangan lantaran niat dan tekad yang kuat untuk ikut KKN 3 T membuat saya yakin bisa.Dalamkegiatan pembekalan kami diberikan materi PendekatanABCD (Asset Based Community-driven Development),yakni satu pendekatan tentang cara mengembangkan aset yang ada dengan memanfaatkan dan memberdayakan komunitas yang ada. Pendekatan inilahakan digunakan dalam pelaksanaan pengabdian nantinya.

Tema utama KKN Nusantara 3T  ini adalahberkaitan dengan “Peace Building” (Moderasi Beragama).Moderasi beragama merupakan cara pandang berkehidupan beragama dengan menunjukkan nilai nilai moderasi dan toleransi dengan kultur budaya di Indonesia, sebab Indonesia merupakan suatu negera yang multikultur dan multi agama yang menuntut kita untuk saling toleransi dan menghargai.

Masa pengabdian yang berlangsung dari 10 Januari 2020 hingga 14 Februari 2020 memberikankepada saya banyak pembelajaran baru. Keindahan alam di Nusa Tenggara Timur, ternyata tidak berbanding lurus dengan indanya kehidupan masyarakatnya. Di Desa Pantai Beringin lokasi kami mengabdi membuka mata kami tentang betapa susahnya kehidupan masyarakat yang ada dengan matapencaharian sebagai petani dan nelayan, hasil kerjanya juga masih kebanyakan hanya untuk kebutuhan sendiri. Sistem pertukaran barang (barter) pun masih berlaku di dearah ini.

Potensi alam yang luar biasa, Desa Pantai Beringin memiliki beberapa pantai dengan pemandangan yang memukau dan indah. Salah satu pantai yang ada di Desa Pantai Beringin adalah Pantai Nona-Opa. Pantai Nona Opa banyak ditumbuhi mangrove di sepanjang garis pantai. Jenis mangrove yang banyak dijumpai di Pantai Nona Opa adalah mangrove jenis Pidada dan beberapa jenis sonneratia. Kualitas ekosistem mangrove di Pantai Nona Opa yang masih terjaga, Pantai Nona Opa memiliki nilai potensi wisata yang bisa dikembangkan suatu saat nanti. Namun, yang lebih menarik lagi di desa tempat kami KKN adalah adanya tempat produksi daging kepiting meskipun masih dalam sekala kecil-menengah.Produksi daging kepiting ini rata-rata mencapai 50 kg perhari dengan limbahnya mencapai 150 Kg. Limbah ini menarik perhatian kami untuk dikembangkan dan kami mencoba mengajak masyarakat untuk mengolahnya, dengan memanfaatkan alat penepung yang sudah tidak difungsikan. Limbah cangkang kepiting ini berpeluang untuk diolah menjadi campuran pakan ternak, penjernih air dan bahan dasar kosmetik. Sebagai langkah awal, kamimegajak masyarakat membuat pakan ternak dengan memanfaatkan limbah yang ada yakni limbah cangkang kepiting, bonggol jagung, ikan kering busuk (yang tidak layak pakai), dedak padi, tepung tapioka dan air. Alhamdulillah, usaha yang kami lakukan diterima masyarakat dan pihak pemerintah desa, akhirnya usaha pakan ternak tersebut ditangani melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) untuk ditindaklanjut. Dari sini kami merasakan bahwa perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk membangun masyarakat, bahkan mereka sangat senang dan mendukung kami.

Dari perjalanan selama pengabdian pengalaman dan pembelajaran berharga yang saya dapatkan adalah mengajarkan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin (rahmat untuk seluruh alam semesta) bukan rahmat lil muslimin (rahmat untuk orang-orang muslim). Kamibenar-benar merasakan bahwa hadirnya Islam harus memberi manfaat tidak memandang siapa, bukan sekedar berbuat baik tetapi juga memberikan manfaat dan memberikan rahmat bagi semua orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *